Text
Akhirnya sembuh juga : tentang masa lalu , pendewasaan . Luka, cinta, dan hati yang pulih
Barangkali, sembuh adalah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan isi buku ini. Sejak awal membaca buku Akhirnya Sembuh Juga, aku merasa seperti sedang diajak menyelami perjalanan hidup yang terkadang penuh luka, jatuh, dan kecewa. Aku masih berharap ada waktu dimana akan pulih seutuhnya. Buku ini menjadi pengingat bahwa emosi manusia itu tidak bisa ditebak. Kadang kita berpura-pura untuk kuat di hadapan orang lain, tetapi adakalanya bisa rapuh tanpa diduga-duga.
Tesar cukup lihai dalam merangkai kisahnya. Melalui sepuluh bab yang berhasil disusun apik, ia membawa pembaca menelusuri fase kehidupan. Dimulai dari masa kecil, transisi ke masa remaja, pencarian jati diri, luka karena cinta, menuju ke masa dewasa, sampai akhirnya tiba di masa hubungannya manusia dengan Tuhan. Semuanya bermuara pada satu hal yaitu hati yang akhirnya pulih di ujung perjalanan.
Tesar mengibaratkan perjalanan ini seperti bertualang. Pembacanya diajak masuk ke “wahana bermain yang penuh luka,” lalu menyaksikan “pemandangan penuh kesedihan,” sampai akhirnya sampai di “puncak bukit yang bernama kebahagiaan.” Rasanya seperti dia bilang, “Tenang, kamu nggak sendiri. Aku akan menemanimu lewat cerita-cerita ini.”
Salah satu best part yang bikin nempel di kepalaku ada di halaman 37:
“Jangan merasa diri ini yang paling susah, paling banyak beban, paling banyak diatur. Kalau sudah takdir, jalani saja, jangan banyak protes. Tuhan juga tidak melarangmu untuk berdoa lagi, kan? Meskipun kamu datang di saat butuhnya saja.”
Kalimat ini berasa seperti ditampar. Kita sering merasa paling menderita. Padahal setiap orang punya perjuangan masing-masing. Jangan terlalu banyak mengeluh, jalani dengan ikhlas, dan jangan lupa berdoa. Tuhan tidak pernah menutup pintu, bahkan untuk mereka yang datang hanya di saat butuh.
Berlanjut ke halaman 129-131, Tesar menulis perumpamaan yang menurutku cukup menarik:
“Tidak perlu menjelaskan kepada ikan caranya berenang, tapi jelaskanlah bahwa keberadaan air itu ada di sekelilingnya.”
Kiasan ini menyinggung soal keinginan manusia untuk selalu diakui. Ia mengingatkan agar kita tidak perlu membuktikan siapa diri kita kepada orang lain. Jalani saja, biarkan waktu yang menunjukkan segalanya.
| NF00755 | 155.25 Tes a | Perpustakaan (Rak 150) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain